Di sebelah kiri notes ini adalah foto dari kedua orang tuaku…..moment ini pada saat melepas masa lajang… Babeh dan Bunda telah menikah lebih dari 29 tahun, saya sama sekali tidak pernah melihat mereka bertengkar. Di dalam hati saya, perkawinan Babeh dan Bunda ini selalu menjadi teladan bagi saya, juga selalu berusaha keras agar diri saya bisa menjadi seorang pria yang baik, seorang suami yang baik seperti Babeh saya. Namun harapan tinggallah harapan, sementara penerapannya sangatlah sulit. Tak lama setelah menikah, saya dan istri mulai sering bertengkar hanya akibat hal – hal kecil dalam rumah tangga.

Malam minggu pulang ke kampung halaman, saya tidak kuasa menahan diri hingga menuturkan segala keluhan tersebut pada Babeh. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun Babeh mendengarkan segala keluhan saya, dan setelah beliau berdiri dan masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian, Babeh mengusung keluar belasan buku catatan dan ditumpuknya begitu saja di hadapan saya. Sebagian besar buku tersebut halamannya telah menguning, kelihatannya buku buku tersebut telah disimpan selama puluhan tahun. Babeh saya tidak banyak mengenyam pendidikan, apa bisa beliau menulis buku harian? Dengan penuh rasa ingin tahu saya mengambil salah satu dari buku-buku itu. Tulisannya memang adalah tulisan tangan Babeh, agak miring dan sangat aneh sekali, ada yang sangat jelas, ada juga yang semrawut, bahkan ada yang tulisannya sampai menembus beberapa halaman kertas. Saya segera tertarik dengan hal tersebut, mulailah saya baca dengan seksama halaman demi halaman isi buku itu.

Semuanya merupakan catatan hal hal sepele, seperti:
“Suhu udara mulai berubah menjadi dingin, ia sudah mulai merajut baju wol untuk saya.”
“Anak – anak terlalu berisik, untung ada dia”

Sedikit demi sedikit tercatat, semua itu adalah catatan mengenai berbagai macam kebaikan dan cinta Bunda kepada Babeh, mengenai cinta Bunda terhadap anak anak dan terhadap keluarga ini. Dalam sekejap saya sudah membaca habis beberapa buku, arus hangat mengalir di dalam hati saya, mata saya berlinang air mata. Saya mengangkat kepala, dengan penuh rasa haru saya berkata pada Babeh, “Babeh, saya sangat mengagumi Babeh dan Bunda”

Babeh menggelengkan kepalanya dan berkata, “Tidak perlu kagum, kamu juga bisa.”

Babeh berkata lagi, “Menjadi suami istri selama puluhan tahun lamanya, tidak mungkin sama sekali tidak terjadi pertengkaran dan benturan. Intinya adalah harus bisa belajar untuk saling pengertian dan toleran. Setiap orang memiliki masa emosional, Bundamu terkadang kalau sedang kesal, juga suka mencari gara – gara, melampiaskan kemarahannya pada Babeh, mengomel. Waktu itu saya bersembunyi di depan rumah, di dalam buku catatan saya tuliskan segala hal yang telah Bundamu lakukan demi rumah tangga ini. Sering kali dalam hati saya penuh dengan amarah, waktu menulis kertasnya sobek akibat tembus oleh pena.

Tapi saya masih saja terus menulis satu demi satu kebaikannya, saya renungkan bolak balik dan akhirnya emosinya juga tidak ada lagi, yang tinggal semuanya adalah kebaikan dari Bundamu”

Dengan terpesona saya mendengarkannya. Lalu saya bertanya pada Babeh,
“Babeh, apakah Bundaku pernah melihat catatan-catatan ini?”

Babeh hanya tertawa dan berkata, “Bundamu juga memiliki buku catatan. Dalam buku catatannya itu semua isinya adalah tentang kebaikan diriku. Kadang kala dimalam hari,menjelang tidur, kami saling bertukar buku catatan, dan saling menertawakan pihak lain.

“Memandang wajah Babeh yang dipenuhi senyuman dan setumpuk buku catatan yang berada di atas meja, tiba – tiba saya sadar akan rahasia dari suatu pernikahan..

Cinta itu sebenarnya sangat sederhana
INGAT dan CATAT KEBAIKAN dari orang lain – LUPAKAN SEGALA KESALAHAN dari pihak lain