Jika Anda ingin mengukur seberapa dewasakah Anda saat ini, maka tanyakanlah pada diri Anda sendiri : “Sudahkah saya memaafkan diri saya sendiri atas semua kesalahan, kebodohan, dan kekonyolan lainnya yang telah saya lakukan dulu?”

Kemampuan diri untuk bisa memaafkan segala penyesalan adalah tanda dari kedewasaan seseorang. Kita semua mengerti, semua manusia pasti pernah melakukan kesalahan, hingga sampai suatu saat hadir seseorang yang benar-benar sempurna di dunia ini. Mengapa kita harus bisa memaafkan diri sendiri?

Membahayakan Kesehatan Jiwa dan Masa Depan

Salah satu sifat yang memicu munculnya depresi (penyakit jiwa) adalah keinginan seseorang untuk terus-menerus mengingat-ingat kesalahan masa lalu dan menyesalinya sehingga itu menjadi beban dalam hidup. Tidak sedikit makhluk Tuhan paling mulia (manusia) di dunia ini yang menjadi korban dari perbuatannya sendiri. Mereka menjadi pemurung, suka marah-marah, sedih berkepanjangan, kecewa, dan menyesal setiap hari hanya karena tidak bisa memaafkan diri mereka sendiri.

Ini menjadi masalah penting karena kemampuan kita untuk memaafkan diri kita sendiri menunjukkan tingkat kebesaran jiwa dan kebijaksanaan kita dalam membangun hidup. Seseorang yang mampu memaafkan kesalahan-kesalahan yang pernah diperbuatnya menandakan bahwa ia telah berpikir bijak dengan mengambil pilihan untuk tidak merusak hidupnya sendiri dengan meratapi sesuatu yang telah terjadi. Kesalahan adalah pengalaman yang terbaik untuk belajar.

Kesalahan Terbesar Seumur Hidup

Hidup adalah pilihan. Semuanya adalah pilihan dan semuanya menyangkut hidup kita sendiri. Segala keputusan ada di tangan kita dan kita sendirilah yang harus bertanggungjawab atas hidup kita sendiri. Kita akan memilih untuk memikirkan terus kesalahan kita, kecewa dan meratapi mengapa waktu itu kita tidak melakukan sesuatu yang lain sehingga hari-hari kita menjadi penuh kemuraman, atau kita memilih untuk berlapang dada dan menyadari bahwa kita manusia biasa yang wajar apabila suatu saat melakukan kesalahan, mengambil pelajaran darinya, dan memperbaiki diri kita sehingga semuanya menjadi lebih baik.

Kalau kita sebagai hamba Tuhan tidak mau memaafkan kesalahan kita sendiri dan memilih untuk terus-menerus berkubang dalam kekecewaan, sebenarnya kita sedang menambah satu kesalahan lagi yang jauh lebih besar. Kita sedang membuat dunia menjadi muram, menyebarkan energi negatif di lingkungan sekitar, menyulitkan orang lain yang membutuhkan kita, merusak tubuh, mengurangi sistem kekebalan, merepotkan orang lain, dan segudang lagi kesalahan lain yang jadi lebih banyak dibandingkan kesalahan yang sudah kita lakukan sebelumnya.

Pemandangan apa yang lebih indah dipandang, matahari terbit atau matahari terbenam? Dua-duanya sama indahnya. Begitu pula dengan keberhasilan dan kesalahan masa lalu, mereka sama-sama memberikan hikmah yang baik dari Tuhan. Sebagai ilustrasi, anggaplah penyesalan yang ada seperti nasi kita yang terlanjur menjadi bubur. Tidak perlu kita sesali buburnya. Lebih baik, tambahkan minyak sayur, bumbu penyedap, daun bawang, kacang kedelai, kecap, dan potongan ayam, maka jadilah ia bubur ayam yang lezat yang bisa kita nikmati.