Wolfgang Amadeus Mozart, komposer, berusia 35 tahun, meninggal pada 5 Desember 1791, dan satu surat kabar Berlin, Jerman, memerlukan waktu satu pekan untuk mengumumkan bahwa ia telah diracuni. Penyebab sesungguhnya kematian Mozart, menurut satu studi baru, mungkin telah disebabkan oleh sesuatu yang lebih sederhana: infeksi tenggorokan yang disebabkan bakteri streptokokus. Kini beberapa peneliti yang menulis di dalam The Annals of Internal Medicine, terbitan Selasa, telah melakukan analisis epidemiologi yang menyatakan ia adalah korban infeksi wabah streptokokus. Kematian secara rutin dicatat di Wina pada Abad 18, tapi para dokter tak diharuskan menyebutkan penyebabnya, yang biasanya diberikan oleh keluarga atau penulis yang melakukan pekerjaan menulis. Semua catatan itu telah bertahan hingga sekarang, dan para peneliti memanfaatkannya untuk menyelidiki pola kematian selama beberapa bulan seputar penyakit yang merenggut nyawa Mozart—November dan Desember 1791 dan Januari 1792—dan membandingkannya dengan pola pada masa yang sama beberapa tahun sebelum dan sesudahnya. Para ilmuwan menemukan 5.011 kematian orang yang berusia 18 tahun dan lebih selama sembilan bulan. Penyebab yang paling umum ialah tuberkulosis, kekurangan gizi, edema (pembengkakan jaringan di bawah kulit), penyakit gastrointestinal dan penyakit cerebrovascular, gangguan pembuluh darah yang mengakibatkan stroke. Tetapi pada musim dingin 1791-92, edema adalah satu-satunya penyebab yang memperlihatkan peningkatan peristiwa di kalangan pemuda dibandingkan dengan beberapa tahun lain sehingga menunjukkan adanya wabah kecil penyakit menular. Edema juga berkaitan dengan penyakit jantung dan ginjal kronis tertentu, tapi penyakit yang diderita Mozart menyerang secara tiba-tiba. Selain edema, Mozart mengalami tidak enak badan, nyeri punggung dan bintik merah pada kulit, semua gejala infeksi streptokokus. “Streptokokus kadangkala diikuti oleh penyakit ginjal akut yang disebut glomerulonephritis, yang menjelaskan pembengkakan parah yang dialami oleh saudari ipar Mozart,” kata Dr Richard HC Zegers, ahli ophthalmologi di University of Amsterdam, pemimpin penulis studi itu.