“Kalo kita melihat rumput tetangga sebelah kanan yang begitu hijau dan segar2 rasanya begitu indah, keadaan rumahnya seperti tak ada kehidupani, akan tapi kalo kita melihat rumput tetangga di sebelah kiri yang begitu tidak terawat bisa di katakan rusak keadaan rumahnya selalu penuh dengan suara2 bahagia”
Sepenggal paragraph di atas menggambarkan sedikit tentang perjuangan kehidupan, tidak perlu di jelaskan panjang lebar dari paragraph di atas menjelaskan ada 2 tetangga yang mungkin berbeda nasib. yang satu kita lihat dari luar penuh kebahagian dan keindahan (tapi kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di dalam, seperti keluarga tersebut tidak pernah berkumpul karena kesibukan masing2). dan yang satu lagi kita lihat dari luar tidak melambangkan kebahagian atau kemakmuran karena terlihat tidak terawat dan rapi akan tetapi ada kemungkinan di dalamnya keluarganya selalu berkumpul dan penuh dengan kebahagian. mungkin kita akan berpikir untuk ke satu tujuan yaitu kata sukses.

Sukses itu penuh perjuangan, bahkan harus diraih dengan pengorbanan yang dahsyat, begitu orang bilang. Meraih sukses itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sering kita kagum terhadap orang-orang sukses di dunia ini, namun kita jarang menelusuri perjalanan sukses mereka yang penuh onak dan duri.
Jika kita dilahirkan di tengah keluarga yang sederhana, atau bahkan kekurangan, mungkin kita tidak akan mendapatkan fasilitas yang memadai untuk mewujudkan impian sukses kita. Berawal dari pendidikan yang layak, mungkin kita hanya mendapatkan pendidikan seadanya. Karena kita tidak mendapat fasilitas yang memadai, seperti biaya kuliah dan lain-lain maka kita pun harus berjuang dari nol. Kita bergerak dari bawah, kita berjuang dari bukan siapa-siapa, tidak punya apa-apa, tidak diakui siapa-siapa, untuk menjadi diri kita yang sesungguhnya yang eksistensi dan kompetensinya diakui dunia di sekitar kita. hal inilah yang sekarang ada pada diri saya dan keluarga saya. orang tua saya benar2 mengajarkan saya banyak hal untuk mencapai dan mengejar yang namanya cita2 dan impian.

Perjuangan dari bawah adalah perjuangan yang keras dan penuh tantangan. Kita menaiki tangga dari anak tangga yang pertama. Jika orang tua kita adalah pemilik perusahaan, tentu kita tinggal mewarisinya. Kita tidak perlu susah-susah merintis karir dari bawah atau merintis usaha/bisnis dari nol. Tapi jika kita meraih kesuksesan dari tidak punya apa-apa menjadi punya segalanya, kesuksesan ini akan sangat berarti bagi kita. Dan yang lebih penting lagi, perjalanan dalam meraih kesuksesan itu sendiri menjadi kekayaan mental kita yang sangat bernilai.

Berjuang dari nol/dari bawah, butuh kesabaran dan semangat yang berlipat ganda. Mungkin kita harus mulai dari profesi yang dalam pandangan umum kurang keren atau tidak berkelas. Misalnya sebagai instalasi kabel, tukang naek tower, tukang gas keliling, sales, tukang telkom, pelayan cafe, supir taksi, anak band cafe ke cafe, DJ, security, sales atau yang lainnya. Bukan berarti saya meremehkan profesi yang saya sebut tadi, tapi kenyataannya bila kita lakukan survey pasti hampir semua orang akan enggan menjalani profesi tadi. Dan mungkin juga orang yang benar-benar sedang menjalani profesi tadi juga karena terpaksa, karena adanya seperti itu, daripada nganggur, atau juga karena minder, “Lha orang saya hanya tamat SD atau SMP, atau SMA mana mungkin saya dapat pekerjaan yang mentereng…” Banyak orang menganggap pendidikan yang rendah menjadi penghalang untuk meraih kesuksesan.

Jika sebuah pekerjaan itu jelas halal dan berkah, buat apa kita malu menjalaninya. Banyak orang ingin kaya dan terlihat perlente, namun pada kenyataannya banyak dari mereka mengambil jalan pintas: korupsi, menjalankan bisnis haram, pergi ke dukun, atau kalau perlu ngingu (memelihara) tuyul dan cari pesugihan. Ini kan tidak ada artinya. Walau kita pada akhirnya kelihatan kaya, punya uang melimpah, tapi pada hakikatnya tidak ada nilainya sama sekali. Saya pikir seorang pemulung yang kucel/lusuh lebih baik daripada mereka.

Kesuksesan yang diraih dengan kerja keras dan tetap konsisten di jalan yang luruslah yang akhirnya akan memberikan kebahagiaan yang sejati. Kekayaan yang kita miliki bukan cuma materi, tapi juga kekayaan mental/kaya hati. Ini adalah kesuksesan yang ideal; selain materi, spiritualitas juga kita miliki. Jadi dunianya kita dapat, akhiratnya juga tidak ketinggalan.

Saya mengenal seorang figur sukses yang luar biasa. Beliau pernah menjadi Supir, kemudian bekerja di sebuah perusahaan telekomunikasi di Jakarta. Mengawali karier sebagai tukang antar karyawan. Namun mimpi beliau tidak pernah padam. Walau beliau berasal dari keluarga yang sederhana, mimpinya tetap menjulang ke langit. Sambil bekerja, beliau berusaha belajar dan untungnya beliau mendapatkan karyawan yang mau mengajarkan tentang pekerjaan mereka sehingga dia di beri kesempatan untuk menjadi instalasi (tukang bongkar pasang perangakt) setelah di percaya menjadi instalasi meneruskan menjadi seorang engineer hingga akhirnya menjadi karyawan tetap yang sangat di butuhkan oleh perusahaan. Semangat belajar yang tinggi membuatnya terus bertumbuh dari seorang supir/tukang antar karyawan menjadi engineer. Perjuangan beliau membuahkah sukses berkat kerja keras dan semangat pantang menyerah sebelum kesuksesan berada di tangan. Latar belakang keluarga, pendidikan dan profesi awal meniti karier tidak menghentikan mimpi untuk meraih impian dan memberikan yang terbaik untuk kehidupan ini.

Kisah di atas hanyalah sekedar contoh bahwa tidak ada yang tidak mungkin dalam hidup ini kalau kita mau berjuang sepenuh hati. Mungkin sekarang kita masih jadi pegawai rendahan, disuruh ini dan itu, bekerja di bawah tekanan yang luar biasa. Atau bisnis kita baru bertunas, orang-orang memandang dengan sebelah mata. Bukankah itu sebuah ujian, apakah kita sanggup melewati tangga demi tangga kehidupan hingga akhirnya kita sampai pada puncak tangga kesuksesan.

Untuk menggapai impian, kita hanya butuh semangat berlipat ganda daripada orang kebanyakan. Di saat orang lain berhenti melangkah, justru kita berlari. Di saat orang lain berkata, “Itu tak mungkin berhasil”, kita justru yakin bahwa nothing is impossible. Di saat kita diremehkan, dipandang sebelah mata, kita justru lebih yakin lagi siapa diri kita yang sesungguhnya. Keberhasilah kita bukan karena orang lain, tapi karena usaha kita sendiri. Kita yakin dengan kemampuan kita. Kita tidak pasrah begitu saja dengan keadaan, namun ikhtiar sekuat tenaga, baru setelah itu bertawakkal menyerahkan hasilnya pada Allah SWT.

Ah..pikiran saya jadi menerawang merenungi nasib saya minggu ini, minggu masuk untuk ke kampus— ada yang harus di urus — sementara istri saya habis melahirkan dan mengasuh jagoan kecil saya yang baru 8 hari. Selagi badan lelah, ingin merebah..anakku menangis karena tidak bisa tidur – seperti bayi yang masih kecil meminta ASI atau dia merasa tidak enak karena semua celana dan guritanya basah karena pipis atau pup. Sudah seminggu istri saya merawatnya dengan baik di bantu oleh mertua saya, Istri saya capek mengasuh anak, saya bekerja di vendor telekomunikasi yang penuh dengan target di dalam pekerjaannya. Tapi Alhamdulillah itu semua bisa saya lewati dengan pasrah. dan mudah2an semua ini bisa di lewat dengan baik dan tanpa ada masalah apapun. jika di ibaratkan seperti Roda kemungkinan saya sedang bersinggungan dengan jalan atau di bawah, ini merupakan ujian yang harus di lewati untuk mencapai kesuksesan. Secara tidak sengaja saya jadi teringat lagu Raihan “Demi Masa” mengambil dari surat di AL-Quran (Al ‘Ashr). Lagu yang sangat indah syairnya, dan mengingatkan kepada kita pentingnya waktu. Hanya waktulah yang tidak dapat dirubah atau dihentikan, dan saya jadi mengerti kenapa waktu menjadi referensi Einstein untuk membahas ilmu Fisika yang njlimet dan membingungkan.

Demi masa sesungguhnya manusia kerugian
Melainkan yang beriman dan beramal sholeh
Demi masa sesungguhnya manusia kerugian
Melainkan nasehat kepada kebenaran dan kesabaran
Gunakan kesempatan yang masih diberi moga kita takkan menyesal
Masa usia kita jangan disiakan kerna ia takkan kembali
Ingat lima perkara sebelum lima perkara
Sihat sebelum sakit
Muda sebelum tua
Kaya sebelum miskin
Lapang sebelum sempit
Hidup sebelum mati
(Ingat lima perkara sebelum lima perkara)

1. Pantaslah Ustadz Parlindungan yang ngajari saya mengaji bilang bahwa surat Al ‘Ashr — Demi Masa adalah surat yang sangat penting kedudukannya untuk kita renungkan.
2. Dan pantaslah bahwa Ridha Allah tergantung pada Ridha orangtua, karena beratnya beban mereka. terimakasih babeh dan emak.
3. Terima Kasih Kakak dan istriku yang telah memberikan bantuan/dukungan apapun kepada saya untuk melewati itu semua.
4. Terima kasih juga untuk teman2 yang sudah memberikan bantuan/dukungan kepada saya.