Abstract: Dengan semakin pesatnya perkembangan internet, alokasi alamat publik IPv4 juga semakin sedikit. Sebagai salah satu langkah untuk mengatasi hal tersebut maka dikembangkanlah IPv6. Proses implementasi IPv6, memerlukan perubahan terhadap infrastruktur komunikasi, baik di sisi terminal, aplikasi  maupun di sisi jaringan. Booming IPv6 tidak dapat diprediksi terjadinya. Oleh karena itu maka diperlukanlah skenario implementasi IPv6 khususnya bagi penyelenggara telekomunikasi.

Sekilas mengenai IPv6

IPv6 yang disebut sebagai IP next generation, bagi penyelenggara telekomunikasi merupakan teknologi yang perlu diantisipasi pertumbuhan demand dan implementasinya. Pada saat ini hampir semua aplikasi bisnis khususnya di segmen korporasi masih memanfaatkan teknologi IP eksisting yakni IPv4, namun demikian belum terdapat tanda yang jelas kapan migrasi atau implementasi IPv6 secara global akan terjadi.

Kelebihan atau solusi yang terdapat di dalam desain IPv6 adalah salah satu pemicu percepatan implementasi. Kelebihan-kelebihan IPv6 adalah sebagai berikut:

1) IPv6 merupakan solusi bagi keterbatasan alamat IPv4 (32 bit). IPv6 dengan 128 bit memungkinkan pengalamatan yang lebih banyak, yang memungkinkan IP-nisasi berbagai perangkat (PDA, handphone, perangkat rumah tangga, perlengkapan otomotif).

2) Aspek keamanan dan kualitas layanan (QoS) yang telah terintegrasi.

3) Desain autokonfigurasi IPv6 dan strukturnya yang berhirarki memungkinkan dukungan terhadap komunikasi bergerak tanpa memutuskan komunikasi end-to-end.

4) IPv6 memungkinkan komunikasi peer-to-peer tanpa melalui NAT, sehingga memudahkan proses kolaborasi / komunikasi end-to-end: manusia ke manusia, mesin ke mesin, manusia ke mesin dan sebaliknya.

Implementasi IPv6

Secara garis besar implementasi IPv6 tidak dapat dengan serta merta dilakukan di semua lini end-to-end, terkait dengan keterlibatan jumlah komunitas/organisasi yang sangat besar di Internet, banyaknya aplikasi berbasis IPv4 yang telah digunakan, dan banyaknya bisnis yang masih memanfaatkan IPv4. Hal yang akan terjadi adalah adanya fase transisi secara bertahap dari IPv4 ke IPv6 dan implementasi IPv6 yang co-existdengan IPv4 selama renggang waktu yang tidak dapat diprediksi.

Namun demikian desain IPv6 sudah menyertakan mekanisme transisi. Beberapa mekanisme transisi tersebut yaitu:

->         Translasi: yaitu mekanisme implementasi yang memungkinkan komunikasi antara IPv6 dengan IPv4. Beberapa contoh mekanisme ini adalah SIIT, NAT-PT, SOCKS 64.

->         Tunneling yaitu mekanisme yang memungkinkan komunikasi end-to-end IPv6 di atas jaringan IPv4 atau sebaliknya. Contoh mekanisme tunneling ini 6to4, 6 over4, Tunnel broker, automatic tunnel.

->         Dual Stack adalah mekanisme implementasi yang mempersyaratkan dukungan terhadap IPv6 dan IPv4 di perangkat yang sama.

IPv6 berdasarkan implementasinya dapat dibedakan dalam 2 kelompok, yakni:

->         Implementasi di level aplikasi yang terkait juga dengan dukungan servernya.

Pada saat ini telah terdapat beberapa aplikasi yang sudah mendukung IPv6 diantaranya  aplikasi jaringan dasar (Apache: Web server, FTP, Ping, Telnet, SSH, mail) serta XML (bahasa pemrograman untuk pengembangan software), dan untuk server hampir semua Operating System versi terakhir telah mendukung IPv6 diantaranya adalah Windows XP SP1, Linux (antar lain: Fedora, Mandrake, Ubuntu), Mac OS, Sun Solaris, AIX.

->         Implementasi level jaringan IP.

Untuk perangkat jaringan IP yang bekerja di bawah layer 3 OSI (seperti hub, switch layer 2, teknologi transmisi) tidak terpengaruh dengan implementasi IPv6, namun perangkat-perangkat yang melibatkan proses routing dan identifikasi layer 3 OSI (seperti routing, switch layer 3) perlu mendukung teknologi IPv6.

Kedua level implementasi IPv6 di atas dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan bagi penyelenggara telekomunikasi untuk mengimplementasikan IPv6 di dalam infrastrukturnya dan pertimbangan pengembangan organisasi untuk implementasi IPv6.

Implementasi IPv6 di level aplikasi

Pada saat ini telah banyak aplikasi yang dikembangkan berbasis IPv6, namun demikian belum terdapat implementasi komersial yang market proven terkait dengan keengganan konsumen khususnya yang menyangkut perlunya pembelajaran bagi teknologi dan investasi baru. Banyak yang memprediksi bahwa demand/ implementasi global IPv6 muncul pada saat teknologi wireless dapat memenuhi kebutuhan jangkauan wireless yang semakin luas, dan dukungan bandwidth yang semakin besar (seperti WIMAX), serta penetrasi yang semakin besar dan dukungan IPv6 pada perangkat komunikasi mobile (handphone, PDA, notebook) serta dukungan aplikasi voice switching di atas jaringan IPv6 yang semakin mapan (standar, industri).

Terkait dengan hal tersebut bagi penyelenggara telekomunikasi, antisipasi terhadapbooming IPv6 di level aplikasi perlu dipersiapkan dalam bentuk kemampuan upgradeIPv6 aplikasi/server khususnya bagi aplikasi voice dan internet.

Implementasi IPv6 di level jaringan IP

Mengacu pada rekomendasi IETF RFC 1752, implementasi IPv6 di level jaringan IP sebaiknya dilakukan dalam bentuk upgrade secara bertahap, implementasi secara bertahap, serta biaya awal implementasi yang rendah, dimana hal tersebut dimaksudkan sebagai:

->         Fase pengenalan terhadap fitur dan karakteristik dari IPv6.

->         Berorientasi pada penghematan investasi.

->         Manajemen resiko yang lebih baik.

Sebagai pertimbangan di dalam implementasi IPv6, saat ini teknologi MPLS telah umum digunakan di jaringan backbone penyelenggara telekomunikasi. Di dalam MPLS terdapat beberapa metoda untuk mendukung IPv6, yaitu:

Metoda dual stack IPv6-IPv4 CE. Pada metoda ini CE memiliki kemampuan membentuk tunneling IPv6 di atas IPv4. PE mengenali trafik dari CE sebagai trafik IPv4. MPLS memberikan layanan standar IP VPN layer 3 sebagai transport trafik antar site IPv6.

Gambar 1.     Tuneling IPv6 di atas IPv4 oleh CE.

  • Metoda L2 VPN (VPN berbasis Layer 2 OSI). Pada metode ini, PE tidak membaca alamat IP dari CE, PE hanya menyediakan layer 2 VPN (berbasis standar Martini, Compella atau VPLS) yang bersifat transparan terhadap protokol trafik di layer atasnya dan dapat digunakan sebagai transport antar site IPv6. Komunikasi antar CE menggunakan IPv6 melalui layer 2 VPN tersebut.

Gambar 2.   IPv6 di atas L2 VPN

->         Dual Stack model 6PE yang mengacu pada draft-ietf-ngtrans-bgp-tunnel-04. Pada metode ini implementasi IPv6 mensyaratkan router PE mempunyai kemampuan 6PE. Antar 6PE melakukan pertukaran informasi (reachability message) mengenai keberadaan jaringan IPv6 yang diwakili menggunakan alamat IPv6. Routing dan identifikasi router di dalam jaringan MPLS tetap menggunakan IPv4.

Gambar 3. Implementasi IPv6 di MPLS menggunakan 6PE.

Dengan referensi ketiga metoda tersebut, penyelenggara telekomunikasi dapat menyusun skenario implementasi IPv6. Skenario transisi IPv6 berbasis MPLS yang diusulkan adalah dari Edge network ke Core Network (driver pelanggan) dengan uraian sebagai berikut:

1) Implementasi fase awal dimana pada saat ini di Indonesia telah terdapat beberapa komunitas IPv6 (data APJII tahun 2004 menunjukkan terdapat 131.073 IPv6 yang terdaftar) metoda 1 dan 2 dapat digunakan. Metoda 1 secara generik dapat digunakan di semua daerah, oleh karena hampir semua produk router terbaru (hardware dan software) memiliki kemampuan tuneling IPv6-IPv4. Sedangkan kebijakan mengenai router dual stack CE dapat disediakan oleh pelanggan atau penyelenggara tergantung dari jenis VPN yang digunakan (manage service atau unmanage service). Metode 2 (L2 VPN) digunakan apabila PE di suatu daerah telah support teknologi tersebut. Metode 2 memberikan fleksibilitas yang lebih baik bagi pelanggan dalam hal pengaturan routing IPv6. Pada fase awal ini jika ada kebutuhan upgrade router, maka hanya terjadi di sisi CE atau PE pada daerah-daerah tertentu, sedangkan pada core network MPLS tidak diperlukan upgrade.

2) Fase kedua adalah implementasi IPv6 di jaringan MPLS menggunakan metode 3 (6PE). Kebutuhan terhadap implementasi IPv6 di jaringan MPLS ditandai dengan semakin besarnya komunitas IPv6 di zona 20, adanya aplikasi/layanan IPv6 yang diselenggarakan oleh penyelenggara telekomunikasi atau mulai muncul tren IPv6 di perangkat komunikasi mobile. Dalam perkembangannya metode 6PE dapat berkembang menjadi router PE yang memiliki kemampuan VPN IPv6 dan VPN IPv4 (misalnya 6VPE) yang berpotensi pada semakin baiknya performansi jaringan IPv6, dimana pada saat ini teknologi tersebut masih belum matang (masih kurangnya dukungan standar dan industri). Pada fase 2 ini kebutuhan upgrade muncul di router-router PE, serta kemungkinkan server-server aplikasi IPv6 (misalnya DNS, mail/web server)  namun belum diperlukan upgrade di core network MPLS.

3) Fase ketiga adalah implementasi IPv6 di semua jaringan MPLS. Kebutuhan implementasi pada fase 3 ditandai dengan telah diimplementasikannya IPv6 di semua komunitas zona 20, dan semua aplikasi/layanan publik yang disediakan oleh penyelenggara telekomunikasi tersebut telah berbasis IPv6. Pada fase 3 ini kebutuhan upgrade akan muncul di core network MPLS.

Pada skenario tahapan di atas, hanya mengatur koneksi antar site IPv6, sedangkan untuk fungsi translasi yang diperlukan untuk komunikasi antara site IPv6 dengan site IPv4, diusulkan sebagai berikut:

1) Fungsi translasi IPv6-IPv4 disediakan oleh pelanggan. Jika kebutuhan translasi hanya pada site pelanggan diluar zona 20.

2) Penyelenggara telekomunikasi menyediakan semacam gateway yang menjalankan fungsi translasi IPv6-IPv4 pada saat telah terdapat aplikasi/layanan publik yang berbasis IPv6. Namun hal ini dapat membuka celah keamanan jaringan dan manajemen QoS yang lebih kompleks, oleh karena itu perlu adanya pembatasan terhadap akses ke gateway tersebut.

Penutup

Booming implementasi IPv6 khususnya di level aplikasi tidak dapat diprediksi kapan terjadinya, namun dukungan industri terhadap teknologi tersebut semakin besar (baik disisi hardware dan software). Untuk mengantisipasi hal tersebut, maka penyelenggara telekomunikasi perlu mempersiapkan skenario implementasi IPv6 baik di level aplikasi maupun di level jaringan IP. Implementasi IPv6 di level jaringan sebaiknya dilakukan dalam bentuk upgrade secara bertahap, implementasi secara bertahap, serta biaya awal implementasi yang rendah.