Kisah sang Ilmuwan Penemu Radio “Marconi”

Pada suatu malam seorang pemuda berumur 20 tahun menguncang-guncang lengan ibunya yang tengah tidur lelap. Walau sangat mengantuk, sang ibu merelakan dirinya digelandang anaknya menuju kamar yang berada di atas loteng. Pasti ada sesuatu yang penting, pikir sang ibu. Jika tidak, anaknya tidak akan bertindak begitu rupa. Sang ibu kemudian diminta untuk berdiri di tengah kamar yang dipenuhi benda-benda aneh dan kabel-kabel berseliweran. Pemuda itu lalu menuju ke meja dekat jendela dan kemudian mengetuk sebuah tuas telegraf. Tiba-tiba dari kamar lain terdengar sebuah bunyi bel listrik berdering sangat nyaring. Sang ibu tidak mengerti apa sebetulnya yang sedang terjadi, karena bunyi bel seperti itu hampir tiap hari dia dengar. Ya tentu saja ibunya tidak mengerti, tetapi bagi si pemuda peristiwa itu merupakan sesuatu yang sangat penting baginya. Karena hal itu merupakan bukti dari keberhasilan penelitiannya selama ini. Ia sebetulnya hanya ingin menunjukkan kepada ibunya bahwa antara bel yang berbunyi dengan tuas telegraf yang diketuknya tadi sama sekali tak terhubung oleh seutas kabel pun. Pemuda itu bernama Guglielmo Marconi, seorang warga negara Italy yang oleh dunia dinyatakan sebagai bapak penemu radio. Peristiwa yang terjadi pada tahun 1895 itu tak hanya penting buat Marconi sendiri, tetapi juga dunia, karena dari hasil penelitian inilah sejarah telekomunikasi dunia berubah secara radikal. Dan tanpa penemuan itu, siaran radio maupun televisi tak kan pernah ada. Peralatan radio yang dibuat Marconi tadi hanya berfungsi dengan baik di sekitar rumahnya saja. Itu berarti jarak antara pemancar dan penerima hanya berkisar belasan meter. Marconi kemudian melakukan berbagai macam percobaan agar peralatannya mampu menjangkau jarak yang lebih jauh. Ia mencoba berbagai cara; menaikkan tegangan batery, menghubungkan kawat ketanah (grounding), menambahkan lempengen tembaga diatasnya (antena), dlsb. Setelah merasa yakin dengan hasilnya, pada suatu hari ia menitipkan sebuah alat penerima kepada kakaknya yang hendak bekerja di ladang anggur. Alfonso, kakaknya yang berusia 9 tahun lebih tua darinya, diminta untuk membawa serta sebuah senapan. Alfonso yang sering berjalan kaki menuju ladang anggur, dalam beberapa menit sudah menghilang dibalik bukit. Tetapi Marconi harus menunggu beberapa saat untuk memberi kesempatan pada kakaknya untuk mengatur alat penerima yang dititipkannya tadi. Pada menit yang sudah dia tentukan, Marconi lalu mengetuk sebuah tuas telegrafnya sebanyak tiga kali berturut-turut. Sekian detik kemudian dari balik bukit terdengar bunyi letusan senapan membahana. Rupanya “pesan” yang dikirim Marconi berupa sandi morse dengan huruf “S” tadi telah diterima, sehinga Alfonso harus mengkonfirmasi hal ini dengan cara menembakkan senapannya. Atas keberhasilan itu tak seorangpun sebetulnya mengerti apa sesungguhnya yang sedang dilakukan Marconi. Satu-satunya orang yang “merasa” mengerti hanyalah ibunya. Ibunya jugalah yang kemudian mengantarkan Marconi ke Inggris. Hal itu terpaksa dilakukan setelah pemerintah Italy menolak pengajuan Marconi untuk mengembangkan hasil penelitiannya itu. Di Inggris, pihak bea cukai malah mencurigai peralatan Marconi sebagai rakitan bom. Annie, ibu Marconi yang berdarah Irlandia, hanya tersenyum kecut. Lalu sambil pamit ia mengatakan: “Ya benar, ini memang bom. Tetapi bukan untuk menghancurkan dunia, melainkan untuk meruntuhkan dinding-dindingnya.” Kecuali Marconi, tak seorangpun mengerti apa yang dimaksud ibu Marconi, hingga sekian tahun kemudian apa yang dikatakan ibu Marconi itu benar-benar terjadi. Tak menyerah sampai di situ ibu Marconi mencari jalan lain. Ia teringat bahwa ia punya keponakan bernama Henry Jameson Davis, seorang insinyur yang pada waktu itu berumur 33 tahun dan mempunyai banyak kenalan di kalangan ilmuwan maupun usahawan di Inggris. Dari sinilah kemudian peralatan Marconi diperkenalkan pada William Preece, kepala bagian teknik Jawatan Pos Inggris. Inilah dia, orang nomor satu di Inggris yang paling berkepentingan dengan peralatan Marconi. William Preece sendiri, yang saat itu berusia 60 tahun, adalah termasuk salah satu pelopor rekayasa telegrafi. Tepat pada tanggal 27 Juli 1896, di depan kantor pos umum London, Marconi mendemonstrasikan peralatan buatannya. Peralatan itu berhasil menjangkau jarak satu kilometer. Hari itu kemudian tercatat dalam sejarah sebagai peragaan pertama peralatan komunikasi tanpa kabel. Kurang dari 2 bulan kemudian, pada tanggal 02 Sept 1896, peragaan kedua dilakukan. Kali ini disaksikan tidak hanya oleh masyarakat umum tetapi juga dihadiri oleh lebih banyak lagi pejabat Jawatan Pos Inggris. Bahkan diantaranya terdapat juga perwira-perwira tinggi militer Inggris. Kali ini peralatan Marconi berhasil menembus jarak hampir tiga kilometar. Sejak saat itu peralatan telegraf tanpa kabel (wireless telegrafi) buatan Marconi mulai banyak diberitakan oleh surat kabar di Inggris maupun di luar Inggris. Nama Marconi kemudian menjadi perbincangan dimana-mana, tak hanya oleh kalangan ilmuwan tetapi juga kalangan militer. Hampir satu tahun kemudian, pada bulan Juli 1897, pemerintah Italy yang telah menyadari kesalahannya hingga menyebabkan Marconi harus berpaling ke Inggris, mengundang Marconi untuk membuat peragaan di atas sebuah kapal laut. Sungguh sangat ironis, pemuda berusia 23 tahun yang pernah ditolak Akademi Angkatan Laut Italy (karena nilai ujiannya yang buruk) kini justru tampil di depan perwira-perwira tingginya untuk memperagakan kemampuan peralatan buatannya: mengirim telegraf dari kapal laut ke pantai yang berjarak lebih dari 10 kilometer, dan berhasil..! Atas hasil karyanya ini dua belas tahun kemudian Marconi menerima hadiah Nobel.