Situasi Ekonomi nasional pada tahun 1968 sangatlah sulit. tak mudah mencari pekerjaan pada era itu. dampak peristiwa berdarah 1965, yang dalam sejarah politik indonesia di kenal dengan  sebutan Gerakan 30 September oleh PKI (G30S/PKI), masih terasa. Lapangan Pekerjaan terbatas. pengangguran makin bertambah.

Aku beruntung bisa mendapatkan pekerjaan. meski hanya sebagai pesuruh, setidaknya masih ada penghasilan. aku mendapat tugas sebagai penjaga alat-alat kantor di sebuah bank asing terbesar di indonesia. saat itu, usiaku baru 19 tahun. meski tugas utamanya menjaga alat-alat kantor, sebagai pegawai rendahan, aku harus siap menerima tugas-tugas lain.

sering aku mendapat tugas keluar kantor. bagiku, tugas di luar justru sangat menyenangkan, karena ada suasana lain yang tidak menjemukan. selain itu, ada penghasilan tambahan. sebab, selain mendapat uang transport, biasanya aku mendapat uang saku untuk kebutuhan makan dan minum.

suatu hari, aku baru kembali dari tugas di luar kantor. sebenarnya tugas itu bukan dari atasanku langsung, melainkan dari atasan di bidang lain. tetapi, aku dengan senang hati tetap melaksanakan tugas itu. aku berpikir, sebagai pesuruh, aku tak boleh menolak tugas atasan. kali ini, aku di minta mengantarkan dokumen ke gedung bank Indonesia., yang kantornya dekat dengan stasiun Kereta Api (KA) di jakarta kota.

suasana jakarta masih sepi, terminal bus hanya terpusat di lapangan banteng. untuk pergi ke kota, aku harus dua kali naek bus. pertama, dari halte bus di depan kantor, di jalan thamrin, menuju terminal lapangan banteng. berikutnya, dari terminal lapangan banteng naik bus jurusan kota. kendaraan umum bus yang paling populer ketika itu adalah bus robor buatan jerman timur. aku naik bus itu. aku siap melaksanakan tugas. ketika menunggu bus di halte dekat kantor, tiba-tiba terlihat olehku seorang wanita tua yang tampak kebingungan. awalnya aku tak perduli dengan wanita itu. tetapi, lama-lama aku iba melihatnya. maka, aku hampiri wanita tua itu. dari cara berbusananya aku yakin wanita itu berasal dari sumatra barat. ia memakai kerudung tidak di lepaskan ke bawah, tetapi di kaitkan lagi ke atas. cara berkerudung itu memang menjadi ciri khas wanita-wanita sumbar. dugaanku benar, wanita tua itu memang berasal dari padang, sumatra barat. dengan sedikit mengerti bahasa padang, aku sapa wanita tua itu dengan sopan.

“Emak mau ke mana?”

“Saya mau ke kota,” jawabnya dengan logat padang yang masih kental.

“ke tempat siapa, Mak?”

“tempat kedai makan anak saya di kota”

tapi si emak mengaku tidak tahu dan bingung harus naik apa ke kota. karena kasihan dan kebetulan aku juga akan ke kota untuk mengantarkan dokumen dari kantor, maka si emak aku ajak bareng. sampai di kota, aku turun di halte depan gedung Bank Indonesia. ternyata si Emak mengikutiku, ikut turun di tempat yang sama. aku pun segera bertanya, “lho, kedai makan Emak di mana?”

si emak menjawab singkat, “ndak tahu”

“alamak kedai anak Mak di mana?” tanyaku lagi

“wah, ndak tahu”

tentu saja jawaban Emak membuat aku bingung. seorang ibu yang sudah renta, kini sedang mencari anaknya, tetapi tidak tahu alamat jelas yang di tujunya. pikiranku semakin kacau karena waktu itu jarum jam sudah mendekati angka sepuluh. padahal, dokumen-dokumen yang aku bawa harus bisa di serahkan paling lambat pukul 10.00 pagi.

Aku ingin meninggalkan wanita itu untuk mengejar tugas menyerahakan dokumen di Bank Indonesia. tetapi hatiku tidak tega meninggalkannya begitu saja. apalagi, dia baru saja tiba dari kampung dan belum mengenal jakarta. tidak hanya kasihan, jika wanita itu tidak sampai tujuan, aku juga memikirkan keselamatannya.

Aku harus menolongnya, tetapi tugas mengantar dokumen tidak boleh gagal. karena waktunya sangat mepet, aku meminta bantuan tukang becak. kebetulan, wanita itu tahu nama kedai makan anaknya yang di kota. pikirnya, tukang becak yang biasa mangkal di Kota pasti tahu nama-nama kedai makan padang di sana. apalagi, wilayah kota saat itu tidak terlalu luas dan tidak ada kemacetan seperti sekarang. jumlah kedai makan padang di sana juga tak banyak. aku yakin tukang becak bisa menemukannya.

agar tukang becak itu benar-benar mau mengantarkannya si Emak sampai tujuan, saya memberikan imbalan yang lebih. saya perkirakan, ongkos untuk mengantarkan si Emak itu bisa di gunakan untuk naik becak keliling kota.

“bang, ini aku berikan ongkos yang cukup banyak. tapi tolong antarkan si Emak ini benar-benar sampai tujuan. tidak tahu alamatnya di mana, tapi ini nama kedai makannya. ” kata saya kepada tukang becak.

tukang becak itu tampak senang dan langsung menyanggupi. mungkin karena saya memberikan imbalan berlebih. si abang becak berjanji akan mengantarkan si Emak hingga tujuan.

“ya…ya….ya… pak! saya janji, pasti si Emak akan saya antarkan hingga kedai padang yang di sebutkan si Emak” Kata tukang becak.

perasaanku terasa lega setelah tukang becak itu memastikan si Emak akan di antarkan hingga tujuan. tapi, sebelum tukang becak itu mempersilakan si Emak naik ke becaknya, tiba-tiba si Emak berjalan menghampiriku. Aku agak terperanjat. pikirku, ada apa lagi si Emak ini?

Kenapa dia tak segera naik ke becak. Namun, belum sempat aku bertanya, si Emak langsung mengangkat tangannya ke atas. ternyata, di hadapanku si Emak dengan khusuk berdoa untuk keselamatanku. Mungkin doa itu di maksudkan sebagai ucapan terima kasih karena aku telah menolongnya.

Kalimat-kalimat doa yang di ucapkan si Emak itu cukup terdengar jelas di telingaku. inti kalimat itu masih aku ingat hingga sekarang. kalimat doa itu demikian:

“ya, Tuhan, di kala aku tersesat, anak ini memberikan jalan keluar. di kala aku bersedih, dia yang memberikan kegembiraan. di kala aku berputus asa, dia yang memberikan harapan. Ya, Tuhan! perlakukanlah anak ini dengan apa yang sudah di perlakukan kepadaku. jangan beri kesempatan dia bersedih, jangan sampai dia berputus asa. Jangan sampai terhenti apa yang di inginkannya. karena Engkau adalah yang mewujudkan segala harapan. Beri anak ini keselamatan dan kegembiraan.”

semula aku hanya diam dan tersenyum mendengar kalimat-kalimat doa yang di ucapkan si Emak. tetapi, lama-lama aku pun larut dalam keharuan, setelah si Emak mencium keningku sambil mengucapkan, ” selamat yang, Nak!”

tanpa sengaja, butir air mata menetes dari kedua bola mataku. aku tak mampu menahan tangis, dan baru berhenti setelah si Emak pergi dengan naik becak. aku pun segera masuk ke Bank Indonesia untuk menyerahkan dokumen. hanya sekitar lima menit sebelum jatuh tempo, tugas menyerahkan dokumen itu bisa aku selesaikan. tak terbayangkan, betapa gembiranya aku. bisa membantu orangtua yang tengah kebingunan mencari anaknya di jakarta dan tugas dari kantor juga bisa terselesaikan tepat waktu.

tapi, kegembiraan itu berubah menjadi was-was setelah aku tiba di kantor. mendadak ada kabar kalau direktur operasional sedang mencari-cariku. pikirku, pasti ada kesalahan atas pekerjaanku. dan ini bisa berakibat buruk atas diriku. rasa takut dan was-was itu mendorong keberanian untuk bertanya kepada atasanku. tetapi, jawabanya semakin buat aku gusar.

” Nggak Tahu, mungkin direktur hanya ingin ketemu kamu.” kata atasanku.

aku semakin penasaran dan bertanya kepada atasan dari bidang lain. tapi, jawabnnya selalu saja senada dengan atasanku. jawaban yang sama itu membuat aku semakin curiga dan berprasangka buruk. namun, belum sampai terucap, batinku muduh mereka pasti telah berbuat jahat, sehingga aku di panggil direktur.

dengan penuh ketakutan, hati berdebar dan kaki gemetar , aku memberanikan diri menghadap direktur operasional. dia warga asing asal india. ternyata, dia berbicara tidak dengan nada marah. banyak yang di sampaikan kepadaku. tetapi, karena menggunakan bahasa inggris, banyak kalimat yang tidak aku pahami. maklum, aku memang hanya sedikit menguasai bahasa inggris.

tetapi, inti dari yang di bicarakan itu aku sangat paham. dan, ini yang membuat aku lega dan merasa amat gembira. kenapa? karena, ternyata sang direktur itu meminta aku meninggalkan tugas lama. aku di berikan tugas baru yang sebelumnya tak pernah terbayangkan.

“mulai besok, kamu tidak boleh di gudang lagi. kamu di pindah ke sana., tapi kamu harus belajar serius. kalau kamu berhasil, kamu akan menjadi pimpinan di sana” kata direktur operasional.

rasa takut yang luar biasa karena mengira akan mendapat sangsi lantaran melakukan kesalahan, seketika berubah menjadi kegembiraan. di tengah-tengah rasa gembira itu, tiba-tiba aku kembali teringat wajah si Emak yang baru saja aku tolong. hanya dalam hitungan beebrapa jam saja, ternyata doa si Emak itu di kabulkan. itulah momen yang menjadi titik tolak aku membangun karier.

****VISA KE SURGA****