Lucu memang negeri Indonesia ini,, beragam sekali budaya, seni dan aspek lain yg masih banyak tak terhitung juga..
Kisah ini di mulai ketika matahari terbenam… Di mana langit mulai merah ke orange-orangean mendadak suara permainan anak kecil sudah tidak ada…
Dari mulai permainan sepeda, lari-larian, sepak bola, basket dan masih banyak lagi tidak bisa di sebutkan satu persatu. Cuaca sore sangat mendukung sekali anak kecil bermain karena di indonesia tepatnya jakarta sore menjelang maghrib itu suasana adem ayem, karena sinar matahari yg hampir redup, tiupan angin sore di tambah semua aktifitas sekolah pada saat itu terhenti.. Maghrib merupakan hal yang sakral saat saya kecil.. Karena orang tua saya selalu menyarankan pulang ke rumah sebelum itu.. Banyak alasan seperti takut dengan lembayung (warna langit berubah menjadi merah) katanya bisa merusak mata jika masih di luar rumah kemudian adanya kolongwewe semacam memedi yang besar dan suka sama anak kecil yang masih bermain saat maghrib tiba, atau juga karena mandi malam bisa menyebabkan rematik persendian akan pegal-pegal jika mandi malem2,,, intinya mereka hanya ingin anak2nya pulang ke rumah dan beribadah di rumah bersama. Karena maghrib biasanya semua anggota berkumpul. Indah sekali masa kecil saya.. Dengan 7 bersaudara yang setiap hari selalu ramai dengan kicauan, tangisan, cacian, ejekan atau pujian… Tapi itu merupakan suatu pengalaman yang sampai saat ini masih di kenang…
Sekarang saya tinggal di Perumahan kecil indah jaya aman tentram dimana tempat itupun sepi seketika waktu adzan berkumandang,,, di perumahan itu hanya ada 21 rumah… Bisa di bilang townhouse atau sluster karena memang tidak adanya pagar di setiap rumah. Hanya satu pagar besar akses satu-satunya supaya kita bisa keluar masuk di perumahan itu.. Dan di jaga oleh sekuriti shift 8 jam yg selalu bergantian menjaga perumahan ini. Perumahan ini baru terisi 20, yang satu lagi masih nyaman dengan kondisi di rumah sebelumnya.. Sehingga rumahnya masih kosong… Dan memang kebetulan sekali nomor 21 dan terakhirlah yang kosong.
Semua rumah itu berisi orang-orang dari beragam suku jawa, betawi, sunda, padang, batak, kalimantan dan bali. Tapi tetap toleransi masih terjaga tanpa mengenal itu semua. Balik lagi ke situasi sore menjelang malam itu alias maghrib.. Di mana saat hari itu ada satu bujang mengajak shalat berjamaah di mesjid dekat perumahan itu. Subhanallah, sungguh cerah mata anak bujang ini tulus mengajaksaya, dia hanya bilang shalat berjamaah itu lebih baik daripada sendiri. Kata-kata itu keluar dari seorang anak umur 11 tahun.
Sore itupun saya ke masjid dengan mengajak anak saya yang masih 4,5 tahun.. Biasanya saya selalu shalat di rumah dengan istri dan anak saya karena banyak alasan atau terkena suggesti waktu kecil sehingga agak sedikit …….. Bisa di bilang takut tapi wong udah besar… Hahhahaha, .. Akan tetapi dengan niat mengajarkan anak saya ke masjid dan menambah pundi-pundi pahala, saya pun berangkat… sebelumnya hal ini sudah pernah dilakukan tapi karena hebatnya anak saya, yang mana saat semua jamaah bersujud tiba-tiba dia mengeluarkan jurus Ninjanya menghilang dengan cara berlari di depan jamaah lain.. Memang anak yang hebat sehingga membuat semua jamaah kaget.. Alhasil di akhir shalat itu saya pun di beritahu oleh penjaga masjid untuk mengajarkan agar jangan berlari biarpun dimaklumi tetap saja besoknya saya sendirian jalan ke masjid atau shalat di rumah. Pengalaman yang bagus karena membuat kita jadi tahu bahwa ambisi tidak selalu berbanding lurus dengan perencanaan… (HukumEkonomi), tanpa pikir panjang saya pun menyanggupi; merangkak jalan bersama dengan si bujang SATU (anak kecil 11 tahun penyeru shalat berjamaah)… Dan tentu saja dengan si bujang DUA (anak saya)… Saat itu saya pake kaos oblong bergambar layaknya anak muda di tambah dengan sarung putih corak garis-garis lurus cap binatang besar yang duduk..
Kami bertiga berjalan menyusuri jalan pedesaan yang masih belum di aspal kemungkinan belum kedeteksi Dinas PU padahal masih daerah Ibukota, maunya sich sms kaya temen satu kantor yang sms jalan rusak eh tiba-tiba beberapa hari kemudian jadi bagus .. Tapi itu judulnya jalan yang rusak yg berarti udah ada aspalnya.. Nah kalo ini aspal belom nyampe karena memang sulit sekali untuk menjangkau daerah ini, di butuhkan waktu yang cukup lama (kebanyakan majasnya nih). batu koral campur dengan batu kali di tambah batu bata dan batako yg hancur lebur di kremasi oleh tanah liat memaksa kita berhati-hati berjalan di antara rumah-rumah besar beserta pepohonannya yang besarnya buat hawa kian menyeramkan.. Buat si SATU tidak membuat dia takut karena dia terbiasa dengan jalanan ini.. Buat si DUA karena melihat semangat si SATU dia pun tidak takut.. Hebat sekali kejadian maghrib itu, dua bujang yang mempunyai semangat untuk ke masjid biarpun mempunyai beda tujuan. Setelah melewati jalan 300 meteran, 7 belokan, 3 turunan dan 4 tanjakan sampailah di sebuah Masjid bergaya modern dengan banyak pintu dan juga jendela sehingga hawa dalam masjid pun adem dingin sejuuukk.. Kondisi masjid saat itu banyak sekali anak kecil 60:40 kalo persentasenya dengan orang dewasa, Kami pun berwudhu dan selanjutnya mendengarkan bilal melafalkan Iqamah, lalu mengikuti imam dengan sempurna, akan tetapi setelah imam mengucap Waladolin,,, makmum pun berseru Aaaamiiiinn… Anak saya pun tak tahu ke mana… Sepertinya jurus Ninjanya muncul tapi kali ini Ninja 1 tak.. 1 rakaat langsung meluncur… Saya pun menyelesaikan shalat tersebut. Dengan reaksi DUA seperti itu, saya pun mengantisipasi seperti kejadian sebelumnya. Alhamdulillah ternyata di masjid ini belum ada teguran maupun peringatan apalagi surat pemberhentian.
Saat itu saya tidak berkomentar/memberitahu anak saya karena bahaya bisa menyebabkan sesuatu yang tertinggal di dalam memorinya..
Semangat jadi Ayah yang baik…🙂

Besoknya, saya memang berniat pulang cepat karena ingin mengajarkan kembali karena kita bisa karena biasa.. Sepulang kantor pukul 4.00 karena memang tidak ada pekerjaan yang terlalu memaksakan untuk tinggal di kantor. Saya langsung starter kendaraan hingga tiba di rumah sekitar 4.15… Ya.. 15 menit. Jarak dari rumah saya ke kantor sekitar 25km.. Kalo dengan kecepatan rata-rata kurang lebih 80km/jam maka bisa di tempuh dengan 15 menit.. Kalo ga salah ngitung itu juga ya..
Maklum jalan kosong karena belom banyak yang pulang, timing bareng jalam dengan bus karyawan pemerintahan yang baru pada pulang dari beberapa departemen. Saat baru pulang datanglah si bujang berikutnya, bujang ini spesial karena kejeniusannya untuk menjawab semua hal yang saya tanyakan.. Sepertinya bakat ilmuwan ada di dirinya.. Saya bisa bilang dia adalah si bujang ke TIGA.. Umurnya lebih tua setahun dari anak saya.. Tapi pemikirannya hebat logis… Bisa di tanyakan langsung ke orangnya kemungkinan karena turunan orang tuanya yang hebat…..
TIGA ini dengan lantang memanggil saya yang baru saja turun dari kendaraan roda dua… “Om nanti aku ikut ke masjid ya.. Kata si bujang SATU kemaren om bareng ke masjid… Aku di ajak ya.. ”
Dengan singkat padat jelas.. Saya pun langsung menjawab “Boleh..”
“asik…” Gitu balesnya lebih singkat… Sambil ngeloyor bermain kembali..
Saya pun merapikan jaket, helm dan sepatu untuk di letakkan di tempatnya masing-masing sambil mengucap salam kepada orang rumah bahwa saya datang… Biasanya dengan sigap istri menjawab salam dan membukakan pintu.
Alhamdulillah, saya tinggal sudah hampir 5 tahun menempati rumah tersebut, rumah di mana hasil keringat dan kerja keras saya… Tempat itu juga sebagai tempat berlindung dari panas dan hujan. Dari awal kami tidak merubah banyak konsep bangunannya.. Bangunan dengan type 54, 2 kamar tidur utama, satu kamar pembantu di atas, dua kamar mandi tambah dapur plus ruang tamu…
Di depan ada sedikit lahan untuk parkir satu mobil + satu motor dan juga taman kecil untuk penghijauan atau resapan.
Di dalamnya tidak terlalu panas kalo siang karena jarak dari bawah ke langit/atap rumah bisa mencapai 4 meter sehingga aliran udara atau space agak cukup banyak. Karena disesuaikan tata kota sebenarnya tidak di sarankan di jakarta selatan membangun tanah tidak boleh lebih lebih dari 60% dari luas tanah.. paling sedikit 40% ada resapan air supaya bahaya banjir bisa di atasi. Jika hal itu tidak di ikuti biasanya sulit untuk mendapatkan IMB (ijin mendirikan bangunan). Ya itulah sedikit view gambaran di gubuk kecil pelindung keluarga kecilku.
Saya pulang biasanya selalu bersantai di bangku ruang tamu… Melapas lelah setelah mengemudikan kuda besi dari kantor menuju rumah. Moment itu biasanya di manfaatkan untuk mengecek gadget dari godaan email kantor, game, sosmed, dan lain-lain.. Intinya melepas lelah tapi sebenarnya mata dan otak masih bekerja untuk itu… Manusia jaman srkarang pasti susah sekali untuk lepas sama yang namanya gadget karena saat ini benda itu yg selalu di cari.. Entah karena suara notifnya, isinya atau sudah kecanduan untuk mengecek gamenya… Hahahhahaha… Normal memang untuk kalangan kuli telekomunikasi seperti saya.. Yg selalu siaga 1×24 jam di telpon customer untuk menjaga supaya network telekomunikasi masih dalam keadaan OK tanpa mati-mati…..
Lalu tidak terasa jam dinding sudah keluar burung kecilnya sambil berkata kikuk kikuk kikuk sebanyak 6 kali… Menandakan pukul 6.00, halaman perumahan pun mulai sepi… Dan suara adzan mulai di perdengarkan, saat itu saya masih sibuk bales email dari kantor… Tiba-tiba ada yg teriak nama anak saya..
Bujang DUA… Bujang DUA… Begitu seterusnya sampai saya dateng.. Posisi baju masih baju kantor… Celana bahan + kemeja standar.. Tanpa basa basi…langsung saya panggil anak saya yang sedang bermain dengan adiknya “Nak.. Ayo… Ganti celana panjang… Kita ke masjid lagi.. Rame nih ada 3 orang”. Dibales sambil menatap mata saya… “Ayo….”.. Padahal dia lg sibuk makan sore. Tapi Gatau kenapa karena alibi males ngunyah atau ada temen-temennya yang nyamperin atau memang udah panggilan adzan, berharap alesan terakhir yang di pilih… Karena itu merupakan semua doa orang tua dari kecil yaitu jadi anak yang soleh. …
Amin…
Akhirnya, dia pun minta di ganti celananya jadi celana panjang… Karena kalo setiap di rumah dia jarang menggunakan celana panjang karena gerah, maklum saat ini udah bulan BER BER tapi hujan muncul ga seperti yg di perkirakan.. Akibatnya siang ibukota seperti kita berada di dekat kompor jaman dulu kala.. Anget ampir mendekati panas..
Apalagi kalo masaknya siang eh… Kaya mandi spa.. Panasnya pooollll..
Kita pun bertiga berjalan melewati jalan yang menyeramkan itu kembali.. Tapi tiba-tiba tanpa kita sadari ada cahaya lampu… Wow… Bujang SATU membawa semacam power bank yang bisa menyala.. Kemungkinan takut salah nginjek di jalanan tersebut.. Padahal kalo tidak ada itu si bujang TIGA pasti akan bertanya sepanjang perjalanan.. Kenapa sich lewat jalan sini? Kok ga ada lampunya? Macem-macemlah pertanyaan si bujang yang itu.. Karena ada lampu itu… Mereka pun berjalan dengan santai dan tenangnya, perjalanan terasa menyenangkan.. Akhirnya.. Sampailah kami semua di tempat yang kita tuju.. Oh ya.. Bujang SATU sempet ketemu sama temen sekolahnya dan memang tipikal dia yang selalu mengajak orang berjamaah di ajaklah temannya dan akhirnya dia mengikuti… I’m proud to you.. Bujang SATU… If I have campaign to be a politician, i will give position JUBIR..🙂
Kami pun shalat berjamaah, kali ini bujang DUA benar-benar Ninja 0-tak.. Setelah takbir dia menghilang… Karena memang ada teman-teman seumuran dia yang sedang bercanda sehingga dia pun tergiur untuk mengikuti anak sepantarannya daripada imam yang memimpin shalat… Ada satu hal yang membuat para jamaah kurang konsentrasi karena bujang TIGA mengikuti bacaan al-fatihah imam dari awal sampai amin… Sontak lah si bujang DUA mengikuti dengan gaya bicaranya yang khas dan sesuai dengan logat sundanya… Tapi setelah amin.. Imam melanjutkan dengan bacaan surat pendek Al-Qoriah,,, al qoriah.. Malqoriah… Bujang TIGA pun terdiam… Dia terdiam karena dia tidak hapal surat tersebut.. Tapi hebat sekali semangat untuk membaca al-fatihah tidak kunjung padam di rakaat kedua.. Masih di lanjutkan… Setelah amin.. Imam pun membaca surat al-ikhlas.. Wow.. Tambah kencang pula si bujang TIGA membaca surat tersebut karena dia sudah hapal surat itu.. Akan tetapi di rakaat ketiga dia pun terdiam sunyi sepi.. Karena memang di rakaat ketiga tidak ada bacaan yang di keraskan lafaznya. Tapi tetep bujang DUA menghilang entah di mana dari rakaat pertama sampai rakaat ke ketiga.. Cuma suaranya yg terdengar sayup mengikuti…
Saya telah gagal?,,, tidak mungkin bisa.? Atau belum waktunya? Atau terlalu berambisi? Ternyata itu semua cuma kekhawatiran kita… Saya masih terus berjuang…
Hari ketiga saya tidak bisa berjamaah karena ada jadwal rutin olahraga futsal yang harus saya ikuti.. Saya sudah bilang ke bujang SATU dan bujang TIGA untuk tidak mendatangi saya dan bujang DUA karena saya juga tidak mengijinkan bujang kesayanganku sendirian ke mesjid..
Hari keempat, siangnya saya masih ada jadwal ketemu dengan teman kantor pukul 2.. Berharap bisa pulang lebih awal karena masih berharap si bujang masih giat dan semangat ke mesjid… Akhirnya selesai juga sebelum waktunya… Saya bisa sampai di rumah pukul 4.50.. Santai2 dan tidak bisa menemani bujang-bujang bermain..  Tapi menyempatkan diri untuk ngobrol sekilas dengan adik si bujang DUA yang masih berumur 3 bulan.. Saat ini adiknya cuma bisa mengucapkan engge.. Engge… Dan trus ketawa ketawa.. Hahahha bayi kecil ini memang lucu… Terima kasih ya Allah sudah memberikan saya 2 bujang ke dunia ini… Mudah-mudahan saya bisa menjaga agar mereka berada terus di sirotol mistakim… Jalan yang lurus… Amin..
Dan waktu maghrib pun tiba… Tanpa basa basi kami pun berangkat menuju masjid.. Hebatnya hari ini, kami shalat berjamaah dengan khidmat… Tidak ada lagi suara si bujang TIGA & DUA,, tapi sesuatu terjadi di rakaat ketiga yaitu rakaat terakhir dalam shalat maghrib.. Bujang DUA mengeluarkan jurus andalannya yaitu Ninja 2-tak.. Belom sampai ke rakaat ketiga dia sudah hilang.. Tertarik ketika ada suara teman-teman seumurannya membicarakan tentang Avenger kekuatan Thor….. Wow.. Dampak TV memang tidak bisa di hilangkan…  Masih terngiang di kepala dia.. Satu hal kemajuan dia hari itu adalah bisa mengikuti gerakan, tanpa mengikuti suara dan tenang… Biarpun sampai ke rakaat kedua.. Bangga dan seneng bukan main..
Di depan dia masih saya keep silent… Tidak memberikan ucapan apapun karena memang belum peningkatan yang signifikan ibarat grafik harus seperti tanjakan dari bawah ke atas…  Saat ini masih turun naik…
Tapi hebatnya si bujang TIGA dia benar-benar mengikuti gerakan imam.. Sepertinya ada bisikan ke ibunya si bujang TIGA dari istriku.. Sehingga dia tidak mengikuti lagi bacaan imam.. Atau memang dia sudah bisa memperbaiki kesalahan hanya dari mencontoh kegiatan sebelumnya tanpa di beritahu.. Tapi saya tetap bangga.. Dia bujang yang hebat… Bisa jalan ke masjid untuk berjamaah…
Udah malam ternyata besok saya lanjutin…
Hari kelima, keenam dan ketujuh adalah hari spesial dan pengalaman terbaik dalam hidup saya..

Jangan pernah menyepelekan perkataan orang lebih muda dari kita jika memang itu benar, kita tahu tapi kadang perlu di ingatkan untuk mengamalkan kembali..

Untuk para Bujang lain di tunggu kedatangannya ke masjid… Karena shalat berjamaah itu lebih baik daripada shalat sendiri..

Oh ya sekaligus untuk para bapak-bapaknya bujang.. Ikut berjamaah yukk semakin ramai masjid semakin banyak juga pahala yang kita dapatkan…
Dari 3 bujang yang memginspirasi ini bisa membuat masjid-masjid jakarta menjadi ramai kembali.. Ramai dengan suara2 generasi penerus kita.. Pernah dengar cerita orang tua bahwa jika sudah tidak terdengar lagi adzan atau shalat berjaamh di masjid maka hari pembalasan atau kiamat sudah hampir dekat…