Betapa senangnya ketika kawan itu menghubungi kembali. Sudah lama kami tak jumpa, hitungannya sudah berbulan-bulan atau bahkan tahun. Aku bahagia dia belum lupa kepadaku.

Dengan riang gembira aku menyambut ajakanmu untuk bertemu. Terbayang di kepalaku betapa serunya kita mengenang masa-masa indah yang telah lalu. Namun Apa yang terjadi justru di luar dugaanku.

KATANYA KANGEN, MAU REUNI, SETELAH BERTEMU KAMU MALAH PRESENTASI

Imajinasi sudah bergerak liar, ingin berbagi cerita kisah lalu dan kabar terkini. Ingin aku bercerita apa yang sudah aku alami selama ini. Betapa aku merindukanmu. Tapi nyatanya kamu malah sudah siap dengan notebook dan sejumlah berkas. Kamu presentasi apa yang sekarang sedang kamu kerjakan. Tidakah kamu ingin tahu kabarku dulu?

KAMU LEBIH PERCAYA LEADER YANG BARU KAMU KENAL DUA BULAN LALU, DIBANDING AKU SAHABATMU DARI SMA

Ternyata kamu membawa skema MLM alias multi level marketing alias penjualan berjenjang. Tidak ada yang salah dengan metode itu. Tapi ini hal yang baru buatku, wajar bukan kalau aku meragukannya? Apalagi banyak hal yang tampaknya perlu aku waspadai.

Namun kamu justru lebih ngotot. Bercerita tentang keberhasilan leadermu, uplinemu yang berhasil di bisnis ini. Kamu bahkan baru mengenal mereka beberapa bulan belakangan ini. Bagaimana dengan aku? Sahabat yang pernah berbagi segala hal selama bertahun-tahun. Tidakkah kamu mau mendengar pendapatku?

 
FOKUSMU CUMA REKRUT, TUTUP POIN, DAN DAPAT UNTUNG

Kamu cuma mendengarkan ceritaku sambil lalu. Kisah kita seperti ingin kamu percepat tanpa perlu diungkit kembali. Kamu begitu fokus untuk merekrut, mengajakku bergabung. Ceritamu berputar-putar soal tutup poin, ambil downline dan bisa dapat untung berapa. Mana persahabatan kita yang penuh kelucuan dulu?

KETIKA AKU RAGU UNTUK BERGABUNG, KAMU MENUDUHKU TAK MAU MAJU

Terus terang aku masih ragu. Aku bilang akan memikirkannya beberapa waktu lagi. Kamu justru mendesakku. Kamu menuduhku sebagai individu yang tak mau maju. Kesempatan harus dijemput, begitu katamu. Dengan mentalku yang sekarang, aku tidak akan jadi orang kaya. Begitu katamu.

KAMU BILANG MAU TRAKTIR AKU MAKAN MALAM MEWAH, SETELAH DATANG KE HOTEL MALAH DISURUH IKUT PRESENTASI

Seminggu kemudian, kamu mengajak untuk bertemu kembali. Kali ini di sebuah restoran hotel mewah. Aku tersanjung, kamu bilang ingin menghabiskan waktu berbincang di tempat istimewa kalangan menengah atas ini. Terbayang kita makan dan berbincang secara privat.

Tak dinyana, sesampainya disana penuh dengan orang. Jumlahnya lebih seratus. Aku duduk semeja dengan orang-orang yang juga sama bingungnya. Kamu bahkan menghilang, sibuk dengan kawan-kawan barumu. Acara dimulai dan aku lagi-lagi harus mendengarkan presentasi

KATANYA KEUNTUNGANMU BISA MEMBELI KAPAL PESIAR, RUMAH MEWAH, MOBIL BMW, TAPI KAMU PULANG NAIK MOTOR BEBEK

Luar biasa presentasi itu. Kawan-kawanmu sungguh orang-orang yang berhasil. Ada yang punya mobil baru, rumah mewah, bahkan kapal pesiar hingga pesawat jet. Itu semua dari hasil bisnis MLM kamu. Aku terpana.

Tapi pemandangan berbeda kutemui seusai acara. Sebagian besar pulang mengendarai motor bebek. Tak ada kendaraan mentereng. Kamu? Memilih pesan ojek online!

AKU RINDU CELOTEH NAKAL SOSIAL MEDIAMU, SEKARANG CUMA ADA MLM DAN PRODUKNYA DI TIMELINEMU

Aku putuskan untuk tidak ikut menjadi member MLM itu. Kamu tak lagi mengajak bertemu. Seperti kemarin aku Cuma bisa menikmati unggahan di sosial mediamu. Tapi semua berubah, dulu kamu suka berceloteh nakal yang membuatku tersenyum membacanya. Sekarang isinya Cuma MLM dan produkmu. Wahai sahabatku, aku sayang padamu, tapi ikut MLM itu telah mengubahmu.

Sumber Original Tulisan : http://www.gobagi.com